Satpam bank yang menggoda

Namanya Jon Hutabarat, nama depannya kayak nama dari orang dari daerah barat. Tapi itu nama aslinya dan nempel di name tag seragam satpamnya yang ketat. Sebagai satpam bank, dia sedikit beda. Kalau satpam-satpam lain biasanya tinggi besar sedangkan dia sedikit pendek, aku rasa tingginya kurang dari 170 cm. Kulitnya putih banget dengan tangan yang berbulu tidak terlalu lebat.

 

Wajahnya ganteng dan cute tapi terlihat banget muka bataknya yang keras dengan bibir yang tidak terlalu tebal berwarna kemerahan. Cambangnya dibiarkan tumbuh dengan rambut yang cepak, kesannya dia laki-laki banget. Kalau dari belakang dia sangat menyenangkan untuk dilihat. Badannya terlihat tegap dan pantatnya seksi banget, keras dan agak menonjol apalagi dia pakai celana satpam yang ketat sehingga cetakan celana dalamnya terlihat. Belum lagi kalau di lihat dari depan, tonjolan kontolnya terlihat besar.

Pernah suatu siang aku kesana, aku melihat dia sedang berdiri dekat pintu. Entah apa yang membuat dia begitu, tapi aku melihat batang kontolnya sedang ngaceng tercetak jelas di celananya dengan posisi miring dan aku semakin yakin dia nggak pakai celana dalam saat itu karena kepala kontolnya juga tercetak. Tapi nggak lama dia masuk dan kemudian keluar lagi dengan keadaan normal.

 

Aku melihat dia sekitar 2 minggu saat aku harus ke bank BRI untuk transfer. Kesan pertama melihat dia yang saat itu sedang berada di depan box ATM bener-bener ngebuat aku gak kuat. Aku terus putar otak, bagaimana caranya agar aku bisa mendekati dia. Sampai akhirnya aku nekat untuk menelponnya di Bank. “Kamu siapa?” tanyanya saat menerima telepon dariku. “Yudi.” jawabku singkat. “Ok, kamu ada perlu apa?” Ditanya seperti itu aku jadi bingung dan gugup. Aku terdiam nggak tahu apa yang harus aku ucapin. “Kalau kamu nggak jawab saya tutup teleponnya ya, soalnya saya lagi banyak kerjaan.”

 

Entah darimana timbul keberanian itu dan langsung saja terucap, “Boleh nggak aku ngisep kontol kamu?” tanyaku yang kemudian kaget sendiri dengan keberanian itu. Nggak ada jawaban apapun dari ujung sana. “Halo…” kataku kemudian. Aku pikir dia pasti menutup teleponnya, tapi kemudian … “Kamu jangan bercanda, saya lagi tugas.” “Nggak kok, saya serius. Kalo kamu mau, saya rela kamu ngelakuin apa aja sama aku di tempat tidur.” Kembali nggak ada suara apapun dari ujung sana untuk beberapa lama, dan aku dengan perasaan deg-degan menunggu. “Aku nggak pernah ngelakuin itu sama laki-laki, tapi kalo kamu mau kita bisa besok.” “Bener..??” teriakku kaget banget. “Iya.” “kenapa nggak malam ini?” “Malam ini aku mau ngentot pacarku, besok giliran kamu, gimana?” Akhirnya kami sepakat untuk bertemu besok sore di kos dia dan aku meminta dia menunggu dengan pakaian satpamnya.

 

Sore yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dengan perasaan yang campur aduk, aku datang ke alamat yang dia berikan. Setelah aku ketuk, pintu terbuka dan dia menyambutku dengan tersenyum lalu mempersilahkanku masuk. “Oh jadi kamu yang nelpon itu. Aku sering liat kamu di bank.” Aku mengangguk dan tersenyum malu. “Bagaimana, mau langsung?” tawarnya. Aku nggak perlu menjawabnya dan langsung mendekatinya, kemudian mengelus-elus tonjolan di celana bagian depannya. “Aku tahunya enak ya dan aku nggak mau ngapa-ngapain kontol kamu.” katanya. Aku menjawab hanya dengan anggukan dan tanganku terus mengusap-usap tonjolan kontolnya.

 

Kemudian aku buka bajunya, aku sangat suka sekali melihat badannya yang tegap apalagi saat dia mengangkat tangannya saat aku membuka kaus dalamnya, kedua tangannya itu terlihat kekar dan keras sekali dan ketiaknya penuh dengan bulu, aku nggak terlalu suka bulu ketiak yang lebat dan biasanya membuatku agak sebal, tapi wajah ganteng dan dada kekarnya membuat semua itu nggak penting. Dadanya terbentuk meski bukan sepeti binaragawan. Dadanya bidang dan bersih dari rambut dengan kedua pentil yang kecil tapi menonjol dan sekeliling pentilnya tumbuh rambut-rambut. Lalu aku melihat ke pusarnya dan disana banyak di tumbuhi rambut yang aku yakin tumbuh menyemak di pangkal kontolnya.

 

Aku langsung memegang kedua pentilnya dan pelan-pelan memilin-milinnya, lalu tiba-tiba aku mendengar dia mendengus agak keras. Nampak dia sangat suka kalau kedua pentilnya dimainkan dan itu membuatku semakin semangat. Dia kusuruh duduk dipinggir tempat tidur dan aku mulai menjalankan aksiku. Aku menghisap-hisap pentilnya seperti bayi yang sedang menyusu, dan pentilnya semakin menonjol serta kian keras. Dia mulai meracau pelan saat aku menyesapi pentilnya dan semakin keras gumamnya saat ujung pentilnya aku jilati juga dengan ujung lidahku sementara tanganku mengusap-usap dada kekarnya yang sudah terbentuk.

 

Pentilnya kugigit-gigit pelan sambil aku tarik-tarik kemudian aku hisap dengan kuat. Dia terus mendesah dan bergumam keenakan. Lalu tanganku mulai bergerak ke bawah dan mengusap bulu-bulu yang tumbuh disekitar perutnya dan pelan-pelan membuka ikat pinggangnya sambil mulutku terus mengeyot pentilnya. Nampaknya sensasi kenyotanku di pentil dan gerakan tanganku yang membuka celana panjangnya pelan-pelan sampai dia hanya memakai celana dalam saja membuat dia semakin bergairah. Beberapa kali dia dengan sengaja menumbur-numburkan kontolnya yang masih di dalam kolor ke badanku.

 

Aku berdiri dan melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat. Kontolku sudah ngaceng berat dan dia tersenyum melihat keadaanku itu. “Gede juga kontolnya.” katanya kemudian. “Tapi kontol kamu pasti lebih besar kan?” tanyaku. “Liat aja sendiri.” Aku perhatikan dia yang sekarang tidur terlentang dengan celana dalam putihnya sebentar. Badannya benar-benar luar biasa, sepertinya dia diberi waktu lebih banyak saat dibuat dulu sehingga dia lebih mempesona dari laki-laki kebanyakan.

 

Kakinya berbulu lebat dan pahanya meski tidak terlalu besar tapi kekar sekali dengan aksen bulu-bulu yang membuat bagian bawah perutnya ini menjadi seksi sekali. Aku berjongkok di lantai, lalu membuka kedua kakinya pelan-pelan hingga terbuka lebar. Seksi sekali melihat pemandangan itu dari sudutku berada. Aku merapatkan kedua kakinya sementara wajahku berada ditengah-tengah kedua pahanya dan menjilat-jilat mulai dari dengkul kirinya dan bergerak pelan ke selangkangannya. Lalu lidahku memutar-mutar di paha bagian dalamnya dan tangan kiriku mengusap-usap paha atasnya yang berbulu itu.

 

Sampailah ujung lidahku tepat di celana dalamnya bagian bawah. Aroma laki-laki segera tercium olehku. Aku cium-cium pelernya yang masih terbungkus dengan bibirku, entah apa bahasa tepatnya tapi aku biasa mengatakan “menguwel-uwel” bibirku nggak keruan di pelernya. Aku tarik keatas pinggiran celana dalamnya dan menarik satu biji pelernya keluar. Biji pelernya besar dan berbulu lebat, pasti banyak pejuh yang tersimpan disana. Aku membayangkan semprotan pejuhnya pasti banyak kalau pelernya seperti ini, pasti enak dan banyak sekali kalau aku telan pejuhnya.

 

Dia masih tidur terlentang saat aku mulai mengemoti biji pelernya yang aku keluarkan satu itu. Aku kemot pelan sekali dan bagian bawahnya aku jilati. Kadang aku kesulitan juga karena bulu yang tumbuh di biji pelernya suka rontok dan mengganggu lidahku. Setelah puas aku masukkan lagi biji pelernya itu dan aku melihat dia sedang menggigit ujung bantal, aku yakin dia pasti ngerasa enak sekali.

 

Dia menatapku saat kedua tanganku memegang pinggiran karet celana dalamnya dan pelan-pelan mulai kuturunkan. Ternyata tidak seperti dugaanku, bulu jembutnya tidak terlalu banyak sepertinya dia mencukurnya beberapa hari yang lalu. Tapi kontolnya membuatku sangat surprise. Dia ternyata masih punya kulup dan kepala kontolnya yang berwarna merah keunguan sudah menyembul keluar dari kulit kulupnya dan sudah basah!

 

Aku paling suka kulup dan aku menjadi begitu bergairah. “Gila masih ada kulupnya,” kataku. “Kenapa, nggak suka kulup ya?” tanyanya “Aku suka banget kulup.” Dan tanpa membuang-buang waktu segera aku menjamah kontolnya yang sudah super ngaceng itu. Kontolnya tidak terlalu besar diameternya tapi panjang banget dan kepala kontolnya lebih gede dari batangnya sehingga menambah seksi dirinya.

 

Kulit kulupnya kemudian aku tarik-tarik sampai menutup kepala kontolnya dan rupanya kulupnya panjang sehingga masih tersisa. Aku gigit-gigit pelan lalu kuturunkan lagi kulupnya sampai kepala kontolnya terlihat jelas dan dia rupanya sangat suka juga dibegitukan. Dia menggigit lagi ujung bantalnya. Lalu giliran batang kontolnya menjadi sasaranku berikut. Aku pegang batang kontolnya dan aku tempelkan diperutnya, lalu lidahku menjalari di seluruh batang kontol bagian bawah sampai aku berhenti di lubang kencingnya dan lidahku kuputar-putar disekitar pinggiran kepala kontol bagian bawahnya itu.

 

Dia menyentak-nyentaknya kedua kakinya saat aku melakukan jilatan di pinggir kepala kontolnya itu dan sentakannya semakin keras saat ujung lidahku bermain-main menggeliti lobang kencingnya yang terus menerus ngeluarin cairan bening. Wajahnya terlihat merah dan terlihat berkerut seperti menahan sesuatu yang luar biasa. Dia bangun dan gerakan tangannya menyuruhku berhenti. Badannya yang putih kini terlihat memerah dibagian atas dan dia tersengal-sengal mengatur nafas sambil sesekali menggelengkan kepalanya.

 

“Kenapa, kamu nggak suka ya?” Dia menatapku, “Aku hampir keluar tadi. Kamu lihai banget, semua yang aku suka tadi kamu lakuin” ujarnya. Aku tersenyum senang. “Aku entot kamu sekarang aja ya.” “Tapi kontol kamu kan belum aku isap.” “Nggak usahlah, aku nggak kuat. Nanti aku keburu muncrat, aku mau ngerasain ngentot laki-laki.” Aku setuju dan tadinya dia mau cari-cari sesuatu buat ngebasahin batang kontolnya. “Nggak usah, aku jilat aja. Aku suka dientot kering aja, soalnya gesekan batang kontolnya berasa banget.” “Nanti sakit lagi” kata dia. “Nggak kok, malahan enak banget.” ujarku menyakinkannya. Dia mengangkat kedua bahunya tanda terserah aku. “Mau posisi bagaimana?” tanyaku. “enaknya gimana?” dia balik bertanya. “Kamu pernah ngentot pacar kamu posisi kamu di bawah nggak?” Dia menggeleng. “Ya udah kita coba gaya itu aja.”

 

Dia merebahkan kepalanya di kasur dan aku mengangkangi kontolnya. Aku turun pelan-pelan dan saat ujung kepala kontolnya yang aku pegangin itu menyentuh lobang anusku aku berhenti sebentar untuk menarik nafas, ini sesuatu yang paling aku tunggu. Dia menatap ke arah kontolnya dan aku pelan-pelan memasukkan kepala kontolnya sedikit demi sedikit. Aku meringis dan menggigit bibir bawahku saat kepala kontolnya yang besar itu mulai masuk setengahnya. Lobangku mulai terbuka sangat lebar, karena kepala kontolnya salah satu yang paling besar yang pernah masuk ke lobang anusku.

 

Aku meringis dan mengeluarkan suara tanda aku sedikit kesakitan karena memang kontolnya masuk dalam keadaan kering tanpa pelumas. dan PLOPP…!!! masuklah semua kepala kontolnya dan aku mendesah lega. Saat aku membuka mata dia sedang menatapku dengan muka yang mengernyit seperti merasakan sesuatu yang aneh. “Sakit ya?” tanyanya. “Nggakk.. hhh … enakkkk.” Aku mulai menaik turunkan pantatku dan dia terlihat mulai menikmatinya, terbukti dia mulai semakin banyak menggeram. Bahkan setelah beberapa lama ketika aku menaikkan pantatku dia menghujamkan batang kontolnya ke atas pertanda dia ingin terus mengocok lobang pantatku.

 

Aku istirahat sejenak di atas perutnya dan menggeol-geolkan pantatku untuk memutar-mutar batang kontolnya dan dia menggeram keras lalu dengan sekuat tenaga menghujam-hujamkan kontolnya sampai aku hampir jatuh. Melihat dia semakin ganas, aku memutuskan berganti gaya yang biasa. Posisi aku dibawah dengan memberikan bantal tipis dipantat biar lobang pantatku agak naik dan memberikannya kesempatan mengentot lobangku sekuat yang dia bisa.

 

Kedua kakiku kutekuk dan dia membimbing batang kontolnya masuk kembali ke lobang pantatku lalu menekannya kuat. Aku mengeluarkan suara seperti hendak buang hajat saat dia memasukkan batang kontolnya, rasanya sakit sekali karena dia memasukkannya dengan paksa dan sekuat tenaga. Dia sepertinya kesetanan dan menjadi buas sekali. Tanpa memberiku kesempatan untuk mengatur nafas, dia mulai memompa lobang pantatku sekuat tenaga. Mukanya mengernyit menahan enak dengan suara geraman dia pompa lobang pantatku dengan batang kontolnya dalam tempo yang sangat cepat.

 

Posisi seperti ini membuatku sangat nyaman, batang kontolnya yang panjang membuat ujung kontolnya dengan mudah menyentuh sesuatu di dalam lobang pantatku yang membuatku merasa begitu keenakan. Wajahnya memerah serta keringat menetes banyak sekali dan dia menggeram keras sambil terus mengentotin pantatku tanpa henti. Sensasinya luar biasa dan dia sudah begitu kesetanan dengan liarnya ngentotku sampai tempat tidurnya berderit-derit.

 

Nggak banyak gaya yang bisa aku buat karena dia sudah begitu liar, tapi itu nggak penting karena aku sudah merasa enak. Semakin lama erangannya semakin keras dan mulutnya terbuka lebar serta tusukan kontolnya semakin kuat, pantatku dipukul-pukul oleh pelernya. Aku sudah nggak tahan lagi, apalagi saat melihat ekspresi muka gantengnya yang keras itu saat mengentotku liar dan menahan enak membuatku … CROTT … CROTTTTT… CROOTTTT… Pejuhku tumpah ruah keseluruh badanku dan ke kasur, banyak sekali. Ini pasti pejuh terbanyak yang pernah aku semprotkan.

 

“Keluarin dimukaku aja.” kataku saat melihat dia semakin terengah-engah. Dia menarik batang kontolnya dan mengarahkan dimukaku. “ARGHHHHHH … SETANNNNNN” geramnya sambil memukul-mukulkan batang kontolnya di wajahku, sakit tapi enak sekali. Lalu … kembali CROTTTTTTTT …CROTTT…CROTTT….CROTTTTTTTT Semburan panas keluar dari lobang kencingnya membasahi seluruh wajahku. Dia teriak keenakan meski suaranya ditahan biar tidak didengar orang. Seperti juga aku, pejuhnya bahkan beberapa kali lebih banyak menyemprot dari pada pejuhku.

 

Dia selesai menyemprotkan pejuhnya dan mengatur nafas. Aku memegang batang kontolnya dan menjilati sisa pejuh yang masih mengalir dari lobangnya. Kadang aku poleskan ke seluruh pipi dan bibirku jika masih ada sisa pejuhnya yang meleleh. Dia kemudian bangun dan duduk selonjor di kursi plastik, dan kedua kakinya terbentanglebar di atas kasur membuat pemandangan yang indah buatku.

 

“Gimana?” tanyaku. “Setan, enak banget.” Dia terdiam begitu juga denganku. “Besok kita ngentot lagi yah, malam ini aku mau nonton sama pacarku.” katanya. Aku tersenyum dan mengangguk senang.

 

Besok pasti luar biasa…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.