Godaan akan pilot muda

PILOT DI KURSI PENUMPANG

Pada dasarnya aku tidak mengenal Indonesia. Sebab aku lahir dan besar di Singapura,berkewarganegara -an Singapura.Selanjutnya aku pindah ke Amerika sampai akhirnya aku berstatus permanent resident.

Aku baru agak mengenal Indonesia setelah aku be-kerja di Dili,Timor Leste dan sering berkunjung ke Indonesia.Pada saat week end dan liburan aku terpaksa keluar dari Timor Leste,karena aku tak betah tinggal di kota Dili yang panas, kacau, sumpek, dan terkebelakang itu.

Aku bisa bahasa Melayu [dan juga sedikit bahasa Indonesia] karena sewaktu di Singapura aku sering bergaul dengan kerabatku yang orang Melayu,sebab dalam diriku mengalir datah Melayu – selain juga darah Cina dan Spanyol.

Ketika aku sering berkunjung ke berbagai kota di Indonesia,aku sering menjumpai hal-hal yang baru. Suatu hal yang baru bagiku yang belum pernah aku lihat sebelumnya di negara lain adalah ketika aku naik pesawat terbang.Di negara lain rasanya tidak pernah aku melihat ada awak pesawat [crew] yang duduk di kursi penumpang. Di Indonesia kadang-kadang aku lihat ada awak pesawat [crew], khusus-nya pilot, yang duduk di kursi penumpang.

Mungkin saja dalam penerbangan di negara lain hal yang seperti itu juga sering terjadi.Tapi karena di negara lain para crew yang jadi penumpang itu tidak mengenakan seragam-crewnya,maka penumpang lain tidak tahu bahwa di antara penumpang pesawat itu ada juga crew yang ikut jadi penumpang. Crew yang jadi penumpang itu biasanya baru selesai ber -tugas yang kemudian libur [off] atau istirahat -dan dia harus pulang ke lokasi domisilinya atau tempat tinggalnya – naik pesawat terbang.

Dalam suatu penerbangan dari suatu kota ke ibu kota Jakarta,aku duduk di samping seorang pilot. Aku tahu orang itu pilot dari pakaian seragam- pilot yang dikenakannya waktu itu.

Sejak semula aku melihat pilot itu di pesawat,aku sudah terpikat padanya.Pertama tentu karena wajah -nya yang tampan memukau.Yang kedua adalah tubuh-nya yang atletis, ketat berotot, serta lengannya yang indah, terutama di bagian bisepsnya. Yang ketiga,aku lihat ada bulu-bulu halus di lengannya yang kekar dan berkulit putih-bersih itu. Bulu-bulu halus di lengannya itu seakan menjanjikan bahwa pilot itu punya bulu-ketek dan jembut yang pasti merangsang untuk dilihat dan dijilat! Tai!

Karena aku menjabat Country Director atau tepat-nya Representative dari suatu organ PBB [UN body and entity],maka jika aku berpergian naik pesawat terbang aku diwajibkan naik business class.

Aku tidak mengerti apa yang jadi latar belakang atau alasan dari kebijakan itu. Karena uang yang seharusnya digunakan untuk memberikan pelayanan atau membantu rakyat di negara-negara miskin justru dihambur-hamburkan untuk membeli tiket pesawat kelas bisnis untuk pejabat-pejabat badan PBB sialan [termasuk aku] – yang umumnya orang bule.

Demikianlah,waktu itu aku pun ada di kelas bisnis dan sang pilot itu duduk di sampingku. Meskipun tampangku tidak “bule-bule amat”, rambutku tidak pirang,tapi memang mudah sekali mendeteksi bahwa aku berdarah bule. Situasi ini punya keuntungan dan kerugian bagiku. Keuntungannya adalah jika aku berurusan di kantor-kantor di Asia dan juga di Afrika – aku dapat kemudahan. Mungkin karena para pejabat dan pegawai disitu bermental orang jajahan – yang cenderung menghormati bule dan dianggap representasi bangsa penjajah di Asia dan Afrika di masa lalu. Kerugiannya adalah aku jadi mudah ketahuan sebagai orang asing dan hal ini meningkatkan risiko aku jadi sasaran tindak kejahatan terhadap orang asing di negar-negara kacau seperti TImor Leste.

Sementara itu,sambil duduk di samping sang pilot, aku bolak-balik mencuri pandang keindahan dan ketampanannya.Aku juga bolak-balik curi-pandang lengannya yang kekar, putih-bersih dan berbulu halus itu – amat merangsang! Sehingga mau-tidak mau,suka-tidak suka,kontolku jadi ngaceng,tegang, mengeras dan …terasa nikmat!

Aku rajin makan kapsul Maca yang membuat aku ber-tambah merasa nikmat setiap kali kontolku sedang ngaceng dan setiap kali puting susuku tegang-melenting [erektil].

Aku harus mengakui bahwa Maca memang betul-betul efektif dan potensial meningkatkan libido dan berahi laki-laki! Jauh lebih efektif dari royal jelly, ginseng atau pun pasak bumi.Pendapat yang menyatakan bahwa royal jelly, ginseng,dan pasak bumi dapat memacu libido[berahi]dan meningkatkan gairah-sexual pada laki-laki mungkin hanya mitos belaka. Maca berasal dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pegunungan Andes [Cordilleras des los Andes] di Amerika Selatan [Peru].Maca amat baik untuk meningkatkan kemampuan kontol untuk bisa ngaceng dalam waktu yang cukup lama dan terasa nikmat.

EDWIN PILOT YANG TAMPAN DAN MENAWAN

Ketika pramugari mulai sibuk menyiapkan meja akan menghidangkan makanan, aku berbasa-basi menyapa pilot yang muda dan tampan itu. Mula-mula dengan bahasa Inggris kemudian aku lanjutkan dengan bahasa Indonesia. Ternyata pilot itu memang enak sekali untuk jadi teman ngobrol.Di samping orang-nya ramah dan terbuka,dia juga punya pengetahuan dan wawasan luas.Dalam awal perkenalanku itu aku secara terbuka menyatakan siapa diriku dan dimana aku bekerja.Rupanya langkah transparansi yang aku lakukan ditanggapi positif oleh pilot tampan itu dan dia juga mulai menyebutkan namanya : Edwin. Untuk menyenangkan hati Edwin aku memanggilnya dengan panggilan “captain”, disingkat “capt” atau “kep”.

Aku merasa penerbangan itu terlalu cepat, karena aku sangat menikmati keberadaanku disamping Bang Edwin dan keberduaanku dengan Captain Edwin.Pada-hal aku biasanya merasa bosan berada di pesawat berlama-lama.Walaupun hanya satu jam – pun. Tapi ngobrol dengan dan berada di samping Bang Edwin yang tampan dan menawan itu, rasanya 24 jam pun aku sanggup duduk di pesawat terbang!

Ketika pesawat landing di Jakarta, aku berhasil mendapatkan nomor HP dan alamat rumah Edwin di Jakarta. Edwin tidak membawa kartu-nama. Tetapi aku berikan saja kartu-namaku.Dengan harapan pada suatu saat Edwin mau menghubungi aku per telpon, per-sms, atau per e-mail.

Selama aku ngobrol dengan Edwin, aku berhasil mengorek info bahwa dia sudah jadi pilot selama lima tahun. Dia bahkan sempat mengatakan jam-terbangnya,sayang tidak terdengar olehku karena terganggu oleh suara pramugari yang menyampai-kan pengumuman [announcement]. Edwin masih muda, mungkin usianya sekitar 25 tahun.

Berat rasanya ketika aku harus berpisah dengan Edwin. Walaupun waktu itu aku baru kenal Edwin sekitar satu atau sekitar satu setengah-jam,tapi ketampanan wajahnya, keindahan tubuhnya, dan kesimpatikan kepribadiannya telah menawan hati dan jiwaku. Selama aku berada di samping Edwin aku melihat bahwa tubuh Edwin tinggi-besar dan dia berdada bidang. Entah apa sebabnya, aku seperti punya “feeling” [atau boleh jadi aku berharap] bahwa Edwin punya kontol besar. Selama ngobrol dengan Edwin, kontolku terus saja ngaceng, mengeras dan terasa amat tegang.Suatu keadaan yang jarang aku alami,kecuali jika aku berada dekat-dekat dengan cowok yang memang benar-benar sexy – merangsang. Kebetulan Edwin memang cowok sexy-merangsang!

Untunglah di Jakarta aku punya banyak kesibukan, sehingga pikiranku tidak “pre-occupied” dengan wajah dan tubuh Edwin yang menawan dan memukau itu.

Selama di Jakarta aku sempat berjumpa dengan beberapa orang pelarian dari Timor Leste yang ingin ber-imigrasi ke negara ketiga. Untuk dapat memberikan pejelasan dengan baik tentang tata-cara berimigrasi ke negara penerima pelarian,aku mengundang mereka makan malam di suatu restoran.

Seperti biasa, sebelum mulai makan mereka berdoa “Pai Nosso” [artinya : "Bapa Kami"] dalam bahasa Portugis.

Setelah masing-masing membuat tanda salib sambil mengatakan :

“Em nome do Pai e do Filho,e do Espirito Santo. Amen”, maka bersama-sama mereka pun mengatakan :

“Pai Nosso que estais no Ceu – santificado seja o vosso Nome – venha a nos o vosso reino – seja feita a vossa vontade,assim na tera como no Ceu. O pao nosso de cada dia nos dai hoje – Perdoai-nos as nossas ofensas, assim como, nos perdoamos a quem nos tem ofendido – e nao nos deixeis cair em tentacao – mas livrai-nos do mal. Amen”.

Sementara mereka berdoa,aku pun dengan diam-diam melantunkan: “Nammo Tassa Bagavato Arahato Samma Sam Buddasa”, yang aku lanjutkan dengan paritta:

“Buddhang Saranang Gachami, Dhammang Saranang Gachami, Sanghang Saranang Gachami”,kemudian aku teruskan lagi dengan paritta :

“Panatipata veramani sikhapadang samadiani”, dan seterusnya sampai selesai.

Setelah selesai dengan urusanku di Jakarta, aku kembali ke tempat tinggalku dan tempat kerjaku di Dili,Timor Leste.Dua minggu setelah aku jumpa Edwin, aku mencoba mengirim pesan-pesan singkat melalui sms kepada Edwin dari Dili – Just to say hello.Aku sangat bahagia ketika ternyata Edwin mau membalas sms-ku. Maka aku pun mengirim-kan sms pada Edwin sekurang-kurangnya sekali dalam sehari.Kata orang Indonesia: Untuk menjaga tali silaturahmi. Kira-kira sebulan setelah kenalan dengan Edwin barulah aku berhasil janjian untuk ketemu Edwin di rumahnya di Jakarta. Kami janjian bertemu pada suatu hari Sabtu.

BERTEMU EDWIN LAGI, MAIN CABUL DAN NGENTOT

Demikianlah,pada suatu hari Jum’at akupun terbang ke Jakarta lagi dari Dili untuk menjumpai Edwin, pilot yang menurut khayalanku dia sudah menjadi “kekasihku dan pujaan hatiku”.Aku harus menginap dulu semalam di hotel sebelum esok paginya aku bisa menemui Edwin-ku.

Ternyata Edwin tinggal sendirian di suatu real estate di pinggiran Jakarta. Tidak sukar mencapai lokasi itu dengan taxi dari hotel tempat aku menginap.

Ketika aku tiba, Edwin sendiri yang membukakan pintu depan di rumahnya. Aku bangga dan bahagia sekali, karena Edwin menyambut aku dalam keadaan dia telanjang-dada, dengan celana panjang jeans warna biru. Penampilan Edwin makin menawan, sexy dan amat merangsang!Kontol-ku jadi ngaceng akibat disuguhi keindahan tubuh Edwin yang amat jantan dan kelaki-lakian itu.

Edwin yang menerima aku telanjang-dada pagi itu menunjukkan bahwa aku sudah diterima atau sudah dianggap sebagai teman dekatnya dan bahwa aku sudah dipercaya secara pribadi olehnya.

Tubuhnya yang dibalut oleh kulit putih-bersih itu menampakkan dada yang atletis dan amat menonjol ke depan dengan sepasang puting susu yang tampak jantan,tegang, dan melenting. Perutnya rata, tapi dihiasi oleh lekukan otot-otot yang membentuk six -packs.Indah sekali.Lengannya yang kekar dan ber-otot itu terkesan amat serasi dengan wajahnya yang tampan serta dada dan perutnya yang atletis.

Di bawah pusatnya tampak samar-samar rambut halus yang seakan tumbuh menjalar kebawah dan aku yakin pasti rambut halus itu bergabung dengan hamparan jembutnya!

Sekali-sekali,jika tanpa sengaja Edwin mengangkat tangan atau lengannya ke atas, maka tampak bulu -keteknya yang hitam dan lebat di dataran ketiak-nya. Bulu-ketek Edwin seakan-akan menyempurnakan penampilannya yang kelaki-lakian dan menyempurna-kan tubuhnya dengan tanda-tanda dewasa seorang pria sejati [real man]! Kontolku makin mengeras tiap kali aku disuguhi pemandangan jantan, bulu – ketek Edwin yang indah,kelaki-lakian dan perkasa itu! Bulu-ketek Edwin yang hitam itu terasa amat kontras dengan lengannya yang putih bersih! Pagi itu Edwin sudah mandi dan sudah rapi,tinggal lagi dia mengenakan kemejanya. Bau harum parfum yang agaknya disemprotkan ke tubuhnya yang telanjang- dada terasa semerbak.Bercampur dengan bau harum deodoran yang disemprotkan atau dioleskan ke ketiaknya yang berbulu-ketek hitam, lebat dan tampak jantan itu!

Aku diajak berkeliling rumahnya yang lumayan besar itu.Untuk mengurus rumah itu Edwin dibantu oleh seorang pembantu lelaki.

“Ini hasil kerjaku selama lima tahun”,kata Edwin dalam bahasa Indonesia – ketika dia menunjukkan rumahnya berkeliling. Edwin sempat cerita bahwa waktu dia masih pilot-yunior [pilot-baru] dia pernah dikontrak perusahaan penerbangan di luar negeri dengan gaji lumayan,selama dua tahun.Uang hasil kerjanya di luar negeri itu lah yang dia gunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah sialan itu.

Aku juga dikenalkan pada pembantu laki-lakinya itu, yang ternyata bertubuh atletis, ketat, ber-otot seperti bos-nya dan tampangnya lumayan enak untuk dilihat.

Aku bicara dengan Edwin menggunakan bahasa gado-gado.Kadang berbahasa Indonesia,kadang berbahasa Inggris,kadang juga campur-baur kedua bahasa itu dalam kalimat.

Sesampainya di kamar tidur Edwin aku ditunjuki tempat tidurnya. Menurut Edwin,tempat tidur dan letak TV-nya dirancang sedemikian rupa sehingga dia bisa menonton TV sambil tiduran atau setengah duduk.

“Just try it. Lie down!”, kata Edwin [artinya : "Cobain deh. Loe baring disini'"], sambil dia berbaring kemudian menyalakan remote control TV-nya agar “on”.

Akupun membaringkan diri,kemudian mencoba untuk mengambil posisi menonton TV. Ketika aku sedang mencoba melihat apa yang ditayangkan di TV, tiba-tiba,Edwin bangkit,mendekatkan wajahnya ke wajah-ku dan berkata :

“Now. I get you”,artinya “Sekarang gw dapet loe”. Wajahnya yang tampan memancarkan senyum memukau dan aku kemudian merasakan lumatan bibirnya di bibirku. Aku terpejam, untuk merasakan nikmat dan indah-nya berciuman,bercipokan dengan Edwin sang pilot yang hampir sebulan aku rindukan itu.Kedua tanganku memeluk tubuhnya yang bertelanjang dada. Aku merasakan nikmat tanganku bergesekan dengan kulit punggungnya. Aku merasakan sedotan mulut-nya di mulutku amat bernafsu! Sepertinya dia mau menghisap semua air ludahku sampai kering!Belum pernah aku diciun atau dicipok oleh cowok sampai ia demikian bernafsunya!

Edwin menghentikan ciumannya dan dia melanjutkan langkahnya dengan melepaskan T-shirt-ku ke atas sampai aku sama-sama telanjang dada. Rupanya dia belum puas. Dia melepaskan kait-kait celanaku dan menelanjangi aku. Bahkan dia kemudian melepaskan sepatu kulit pantofelku[yang berharga di atas US 500,- ]sampai aku bugil telanjang bulat!Aku juga tak beralas-kaki! Lalu dia berkata :

“Now. You’re mine”, artinya : “Sekarang lu jadi milik gw”, kemudian Edwin menciumi lagi bibirku, leherku, dan puting susuku. Tapi aku tidak mau jadi bottom. Karena itu aku mulai bertindak dan bergerak. Sementara Edwin sedang asyik menjilati puting susuku sambil memain-mainkan dengan jari-nya aku bangkit dan mulai menindihi tubuh Edwin. Bibirku gantian melumat dan mengenyot bibirnya yang ranum,jantan dan merah-merona.Sementara itu kedua tanganku berusaha keras untuk memplorotkan celana-jeans dan kancut Edwin agar dia juga jadi telanjang bulat!

Lalu bibirku terus aku turunkan kebawah sampai ke kontolnya!Aku ingin segera “merampas kenikmatan” yang sedang dirasakan Edwin dengan cara mengisap dan menjilati kontolnya.Sambil mengisap dan juga menjilati kontol Edwin, aku juga mengocok kontol-nya dengan tanganku.

Kontolnya yang sudah tegang,jadi tambah menegang ketika kuisap, kujilat dan kukocok! Ini membuat Edwin menggelinjang mungkin karena ia merasa ter-amat nikmat.

Semua berjalan cepat, karena kemudian aku lihat Edwin tidak mampu lagi menahan pejuhnya untuk tidak muncrat keluar dan …… CROOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOOOOOOT! Pejuhnya muncrat, sebagian pejuhnya masuk ke mulutku dan aku telan dengan rakus dan nikmat.

Lalu aku lihat Edwin jadi gelisah.Aku didorong ke samping dan dia berguling, baring di belakangku. Entah bagaimana,dia mau mengentoti boolku seperti dia mengentoti perempuan dari arah bool. Tetapi kemudian aku lihat Edwin makin gelisah. Mungkin sukar menyodomi silitku dalam posisi tubuhku yang miring. Kontolnya disodok-sodokkan ke belahan bokongku tapi seperti tidak masuk-masuk. Sehingga Edwin pun mengatur-atur tubuhku sampai aku berada dalam posisi menungging.Kemudian Edwin mengambil posisi berlutut di tempat tidur dan silitku pun diembat dengan kontolnya! Mula-mula aku merasa sakiiiiit.Tapi demi Edwin, aku rela, aku ridho, aku ikhlas, menyerahkan silitku untuk dihajar dengan kontolnya yang besar bagaikan kontol kuda Arab itu!

Edwin memompakan kontolnya kedalam silitku dengan amat bernafsu dan kasar, sepertinya dia merasa sedang mengentoti nonok perempuan!

Akhirnya siksaan kejam itupun selesai.Aku rasakan adanya pejuh hangat terpancar di dalam silitku. Edwin sudah memuncratkan pejuh untuk kedua-kali-nya.Jika sebelumnya Edwin muncrat pejuhnya karena kontolnya aku isap-isap, maka yang kedua kalinya dia “usaha sendiri” dengan cara mengentoti dubur -ku!

Aku bahkan pagi itu tidak sempat memuncratkan pejuhku.Tapi walaupun begitu,aku rela,aku ridho, aku ikhlas,demi Edwin yang amat aku cintai itu. Biarlah nanti di hotel aku ngeloco sendiri [swa-layan]. Ta’i

EPILOG

Demikianlah perjumpaanku yang kedua dengan Edwin. Edwin masih off sampai hari Senin sore-nya.Oleh sebab itu Edwin meminta aku untuk menginap di rumahnya.

Selama dua hari itu kami menghabiskan tenaga dan pikiran kami berdua untuk main cabul memuaskan dan melampiaskan nafsu sex kami! Agh! Kontol!

Walaupun Edwin berwajah tampan dan menawan,tetapi aku merasa sudah puas bisa berbuat cabul dan juga dientot oleh kontolnya.Setelah main cabul selama dua hari dengan Edwin,aku merasa sudah puas dan tak merasa perlu mencari jalan atau cari alasan untuk jumpa lagi.”Cukuplah sudah semua kecabulan itu”,demikian pikirku! Aku pun kemudian berpisah dengan Edwin tanpa beban, tanpa kegalauan, dan tanpa kerinduan! Semuanya berakhir begitu saja!

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.