Kugantikan istrinya malam itu

Siang itu aku bermaksud mengajak sahabatku jalan-jalan, maka kuhampiri ia di rumahnya. Saat kuketuk pintu, ternyata yang membukakan adalah ayahnya, yang selama ini aku kagumi. Ayahnya adalah seorang tentara angkatan darat yang bertugas di Semarang. Karena hari itu Sabtu, kupikir ia sedang off.

“Angga ada, Pak?” tanyaku pada ayah Angga, yang kala itu masih mengenakan seragam hijaunya lengkap tanpa sepatu.
“Oo, Dik Bondan. Masuk dulu, Dik! Silakan duduk!” katanya ramah mempersilakan aku untuk masuk dan duduk.
“Angga dan adiknya serta ibunya sedang ke Semarang. Katanya ada urusan keluarga. Saya juga seharusnya ke sana, tapi berhubung saya lelah, jadi saya urungkan niat saya”.
“O, gitu ya, Pak!” kataku sedikit kecewa.
“Benernya saya mau ngajak Angga jalan-jalan. Maklum, habis ujian”.
“Memangnya harus sama Angga? Nggak ada teman yang lain?” tanya Pak Sigit, ayah Angga.
“Ya mau sama siapa lagi, Pak! Lha wong temen yang paling deket dengan saya juga cuma Angga. Yang lain paling udah punya acara sendiri-sendiri, Pak!” kataku dengan logat Jawa yang cukup kental.
“Wah, kebetulan. Gimana kalau sama saya saja. Saya juga lagi males di rumah sendirian” kata Pak Sigit menawarkan.
“Tadi sih kirain ada istri saya, jadi bisa ‘gituan’ setelah seminggu ini ditahan. Ee, malah ternyata istri saya ke Semarang. Ya sudah, saya cuma bisa gigit jari”.
“O, ya nggak Papa, Pak!” jawabku singkat.
“Tunggu ya, Bapak ganti baju dulu!” katanya seraya beranjak pergi.

“Oh My God! Aku akan jalan-jalan bareng Pak Sigit. Cuma berdua, lagi. Duh, gimana ya rasanya? Asyik kali, ya?” tanyaku dalam hati.
Terus terang, aku memang sangat suka pada ayah sahabatku itu sejak pertama kali aku dikenalkan Angga padanya. Walau Pak Sigit lebih pendek dariku, tapi perawakannya begitu jantan. Tangan dan kakinya tampak berotot, sementara bekas cukuran selalu membuatnya tampak lebih macho. Aku belum pernah melihat Pak Sigit bertelanjang dada, apalagi tanpa pakaian sepenuhnya. Tapi, bukankah kesempatan itu pasti akan selalu ada walau hanya sekali.
“Ayo, Dik Bondan” kata Pak Sigit sekeluar dari kamarnya.
Suaranya yang khas membuatku tersadar dari khayalanku tentang dirinya.

Akhirnya, dengan Pak Sigit sebagai pengendara, kami berdua mulai meninggalkan kompleks rumah Pak Sigit.
“Keliling Jogja juga boleh, asal bisa melepaskan penatku aja, Pak!” kataku pada Pak Sigit ketika ia bertanya padaku tentang tujuan kami.
Selama perjalanan, aku tak henti-hentinya memandang tubuh kekar Pak Sigit dari belakang. Sudah lama aku impikan berdua sedekat ini dengannya. Kini, ia memakai celana training tipis, kaos hijau ketat, dan jaket yang membuatnya tampak lebih berwibawa.

Setelah beberapa waktu, aku mulai memberanikan diri meletakkan kedua tanganku pada masing-masing paha Pak Sigit. Tak tampak penolakan sedikitpun darinya. Menyadari hal demikian, aku pindahkan tanganku, sehingga kedua tanganku kini melingkar di perut Pak Sigit. Hal ini pun juga tidak mengurangi konsentrasi Pak Sigit dalam berkendara. Mungkin hal ini menjadi hal biasa baginya, tapi bagiku ini adalah sebuah kesempatan yang sangat sayang jika dilewatkan.

Kugesek-gesekkan tanganku secara perlahan pada perutnya, dan ternyata dapat kurasakan kerasnya perut Pak Sigit.
“Sebuah hasil dari latihan militer yang sedemikian keras” pikirku.
Aksiku hanya sebatas menyentuh perutnya, tidak lain. Aku tidak melakukan hal yang lebih jauh, karena aku masih belum cukup bernyali untuknya. Akhirnya, dengan tanganku yang melingkar di perut Pak Sigit, perjalanan keliling Jogja kami habiskan dengan mengobrol kesana kemari, termasuk seks.

Sebagaimana kudengar, Pak Sigit ternyata memiliki libido yang cukup besar. Ia mengaku mudah terangsang dan selalu ingin segera melampiaskan nafsunya itu. Tapi untunglah, pekerjaannya mampu membantunya menurunkan libido yang sering muncul secara tiba-tiba. Biasanya, libido yang sempat ditahannya selama hampir enam hari, ia salurkan dengan ‘bergaul’ dengan istrinya, saat ia pulang ke Jogja pada hari Sabtu. Setelah sekali main di sore hari, kemudian disambung di malam harinya, lantas pada saat ayam jantan berkokok. Itupun Pak Sigit mengaku masih kurang puas. Biasanya secara diam-diam ia mengocok sendiri kontolnya di kamar mandi.

Obrolan-obrolan kami itu ternyata telah membuat kontolku ngaceng. Aku ingin berbuat yang lebih lagi dengan Pak Sigit, tapi kuurungkan niatku itu karena ternyata motor sudah membawa kami kembali ke kompleks rumahnya. Setelah memarkir kendaraan, ia segera mempersilakan aku duduk di ruang tamunya. Pak Sigit masuk ke kamarnya, dan tak berapa lama kemudian ia sudah keluar hanya dengan boxer dan kaos ketat hijaunya. Kulihat sepintas, kontolnya agak menonjol di balik celana berbahan katun itu.

Kami kembali terlibat dalam obrolan seru, namun kali ini aku tidak begitu terfokus pada pembicaraan karena aku lebih tertarik untuk mencuri-curi pandang ke kontol Pak Sigit yang masih terbungkus boxer itu. Sesekali, kulihat tangan Pak Sigit mengusap dan menggaruk kontolnya.
“Trus kalau pas istri Bapak nggak ada gini, gimana cara menyalurkan nafsu Bapak itu?” tanyaku selalu menjurus pada hal-hal yang berbau seks.
Aku yakin bahwa ini akan membuka jalanku untuk berbuat lebih jauh dengan Pak Sigit.

“Ya, biasanya sih suka ngocok sendiri. Nikmatnya sih jauh beda dibanding sama istri. Lebih nikmat punya istri” kata Pak Sigit dengan nada bercanda.
“Emangnya nggak mikir untuk nyoba dengan yang lain, Pak?” tanyaku lagi.
“Maksudnya dengan pelacur, gitu?” tanyanya skeptis.
Aku hanya mengangkat bahuku.
“Nggak ah, takut penyakit. Siapa tahu di dalamnya sudah banyak bibit penyakit yang nantinya malah nular? Hii..!”
“Kan bisa pakai kondom, Pak!” kataku seolah mengejar jawaban Pak Sigit.
“Rasanya kurang nikmat. Dulu pernah saya ‘gituan’ pake kondom sama istri saya, dan saya kurang bisa menikmati. Lebih enak alami, Dik!” katanya seraya mengelus kontolnya lebih intens lagi.
“Udah kebelet ya, Pak?” tanyaku hati-hati.
Aku memberanikan untuk duduk mendekati Pak Sigit. Kujulurkan tanganku ke kontolnya.
“Memangnya harus dengan istri Bapak? Gimana kalau sama saya, Pak?”.

Pak Sigit mengernyitkan dahinya tanda heran. Tangannya menepis tanganku, tapi aku dengan berani meletakkannya kembali ke atas gundukan di bagian depan celananya.
“Memangnya Dik Bondan yakin bisa mengimbangi libido saya?” tanyanya padaku.
Aku tak memberi jawaban apapun, hanya saja tanganku masih tetap mengelus bahkan meremas kontol Pak Sigit.
Akhirnya, tangan Pak Sigit meraih tanganku dan membimbingku menuju sebuah kamar. Kupikir kamar itu bukan kamarnya, karena sama sekali tidak menampakkan sebuah kamar suami istri. Setelah kutanya, ternyata Pak Sigit tidak mau menodai ranjangnya dengan ber-intim dengan orang lain. Jadilah, Pak Sigit memilih kamar Angga sebagai tempat kami ber-ah uh oh.

“Bisa pinjam jaketnya, Pak?” tanyaku ketika aku mulai merebahkan tubuh Pak Sigit ke spring bed itu.
Ia segera beranjak dari rebahannya, dan mengambil jaket yang tadi ia pakai, tanpa bicara. Kemudian, ia memposisikan dirinya kembali seperti sedia kala. Jaket itu kuletakkan di samping Pak Sigit, lantas aku duduk di atas kontolnya yang sudah setengah ngaceng, dan kusuruh ia menanggalkan kaosnya. Setelah ia melepas kaosnya, tampaklah dengan jelas dada bidang berkulit sawo matang, halus tanpa bulu. Bahu, dada, dan perutnya tampak bagus tercetak oleh latihan militer yang selama ini ia jalani. Ia lipat tangannya ke belakang kepala, hingga ia berbantalkan kedua telapak tangannya di atas sebuah bantal empuk.

Aku mulai menggoyang-goyangkan pantatku yang masih mengenakan celana lengkap di atas kontol Pak Sigit. Kali ini, bisa kurasakan kontol itu semakin membesar dan memanjang.
“Buka pakaianmu!” perintah Pak Sigit dengan suara paraunya.
Tampaknya ia telah terkuasai nafsunya. Aku tak menuruti apa kata Pak Sigit kali ini. Aku masih duduk di atas kontol Pak Sigit dan berlagak sebagai seorang cowboy yang sedang ber-rodeo. Kudengar Pak Sigit mengeluarkan desahan-desahan kecil.

Setelah melakukan aksi rodeo, lantas aku membuka boxer Pak Sigit dengan mulutku. Kubuka perlahan ke bawah, hingga kontolnya yang kini sudah ngaceng sepenuhnya keluar dari sarangnya. Kontol yang disunat itu tampak gagah dengan kepalanya yang memerah dan batangnya yang berwarna coklat gelap. Aku tak tahu seberapa besar kontol itu. Yang jelas saat kugenggam kontol itu dari pangkalnya, sebagian dari batang dan kepalanya masih jelas terlihat.

Kulucuti boxer itu, hingga kini tak selembar pun kain yang menempel pada tubuhnya, kecuali bed cover berbahan satin itu. Kuambil jaket, yang biasanya dipakai oleh taruna angkatan udara itu, kemudian kuperlakukan sedemikian rupa hingga kain halus yang berwarna oranye berada di luar. Kedua tanganku kuselimuti dengan jaket itu, dan kuletakkan bagian berwarna oranye pada jaket mengelilingi kontol Pak Sigit.

Pak Sigit sedikit tersentak dengan aksiku itu, tapi detik selanjutnya ia merasakan nikmatnya dielus dengan menggunakan jaket itu. Tak henti-hentinya kudengar desah nafas Pak Sigit, yang semakin membuatku ingin bertindak lebih jauh. Setelah beberapa waktu meremas dan mengelus kontol Pak Sigit dengan jaket, aku segera melempar jaket itu ke lantai dan menggenggam erat kontolnya dengan tangan kananku. Kuludahi kontol Pak Sigit dan kugerakkan kontol itu naik turun.
“Dik Bondan.. Uuhh.. Nghh.. Terus, Dik!” kata Pak Sigit di sela-sela desah kenikmatannya.

Tak ingin membuang banyak waktu, aku segera mendaratkan kecupanku di batang kontol Pak Sigit. Masih kugenggam batang itu, sambil kumainkan lubang kencingnya dengan jempolku. Kali ini, tampaknya Pak Sigit tidak mau melewatkan saat-saat dimana kontolnya diperlakukan dengan nikmat. Ia duduk dan segera menyandarkan badannya ke sandaran ranjang. Setelah itu, ia memberiku kode untuk bermain dengan kontolnya lagi. Pak Sigit mengangkangkan kakinya, memberiku area yang lebih luas untuk bermain.

Aku segera meletakkan bibirku kembali ke batang kontolnya, dan mulai menjilatinya. Kemudian aku berpindah ke kepala kontolnya yang telah mengeluarkan pre-cum. Kujiati seluruh pre-cum yang ada, dan perlahan mulai kumasukkan kepala dan batang kontol itu ke dalam mulutku. Senti demi senti telah masuk, namun tak seluruhnya mampu kumasukkan. Aku mulai menggerakkan kepalaku naik turun, mengemut batang kontol coklat itu. Pak Sigit tidak tinggal diam mendapati kontolnya diembat seorang lelaki. Ia meraih bagian belakang kepalaku, dan meremas-remas rambutku. Kakinya pun juga tak mau kalah berperan. Pak Sigit terkadang mendekapkan pahanya erat-erat ke kepalaku. Nafas Pak Sigit mulai menderu, seiring dengan gerakan kepalaku yang kupercepat. Pantatnya juga bergoyang-goyang menikmati sensasi yang dilahirkan dari kontolnya yang sedang kukulum. Saat kurasakan Pak Sigit sudah mencapai satu taraf dibawah orgasme, aku segera menghentikan permainanku.

Aku berdiri, lantas turun dari ranjang. Kusuruh Pak Sigit untuk berpura-pura memperkosa aku, dan ia menurut. Ia mendekapku dari belakang, dan berlagak seakan-akan mencekikku jika aku tidak menuruti apa yang ia mau. Aku pasrah. Lantas, ia membanting tubuhku ke ranjang, dan ia menindihku. Dengan penuh nafsu, Pak Sigit membuka bajuku dengan paksa hingga beberapa kancingnya terputus. Ia robek kaos dalamku dengan tenaganya yang besar. Lantas, ia buka ikat pinggangku dan memelorotkan celana yang kupakai hingga terlepas. Aku berlagak merintih kesakitan, dan itu ternyata semakin memperbesar nafsu Pak Sigit. Terakhir, ia buka celana dalamku dan mengeluarkan kontol beserta buah zakarku. Celana dalamku ia tarik sedemikian rupa dengan sangat bergairah, hingga terlepas dari tubuhku.

Melihat tubuhku yang telanjang bulat terlentang di ranjang, Pak Sigit segera menindihku. Kurasakan kontolnya begitu keras menimpa kontolku, dan jembutnya terkadang bergesekan dengan perut dan sebagian kontolku. Tampaknya Pak Sigit sudah lupa dengan siapa ia berbuat itu. Ia sudah terkuasai oleh nafsunya yang membara. Ia ciumi bibirku dengan cekatan. Bekas cukuran di wajahnya memberi sensasi tersendiri bagi percumbuan kami. Kali ini aku benar-benar mendesah mendapat perlakuan istimewa dari seorang Pak Sigit. Kemudian, Pak Sigit segera memindahkan cumbuannya ke leherku dan dadaku yang ditumbuhi sedikit bulu. Ia jilat dan hisap pentilku, seperti sedang menyedot milik istrinya.

Aku mengangkat bahu Pak Sigit, dan memberi tanda padanya bahwa gantian aku yang melayaninya. Pak Sigit mengambil posisi seperti saat aku ngemut kontolnya, dan segera menyuruhku untuk menuntaskan pekerjaanku. Tak langsung kuemut kontolnya, tapi kujialti dahulu batangnya yang sudah basah oleh keringat. Tampaknya, Pak Sigit sudah tak sabar menerima servis mulutku lagi. Kedua tangannya sudah mencengkeram kepalaku dan membimbingnya ke kontolnya yang masih sangat ngaceng. Aku menaikturunkan kepalaku beberapa kali hingga saat itu tiba. Entah sengaja atau memang refleks, Pak Sigit mendorong kepalaku hingga hampir seluruh kontolnya masuk ke mulutku.
“Aaahh..!” Desah nikmat terlontar dari mulut Pak Sigit seiring dengan maninya yang menyemprot keras pangkal mulutku.
Walau merasakan sebuah rasa yang aneh di lidah, tapi aku tetap berusaha menelan semua pejuh yang dipancarkan kontol Pak Sigit.
“Ohh.. Uhh.. Ooh.. ” terdengar beberapa kali lenguhan selama kontol Pak Sigit memuntahkan lahar putihnya.

Tetap kudiamkan kontol itu di dalam mulutku hingga beranjak melemas. Kukeluarkan kontol Pak Sigit dari mulutku dan kujilati sisa-sisa mani yang menempel pada batang dan kepalanya. Kulihat ekspresi Pak Sigit begitu puas dengan apa yang baru saja kulakukan. Ia masih terengah-engah dengan wajah penuh peluh. Dadanya yang coklat tampak mengkilat dibasahi butir-butir keringatnya.

Aku menegakkan badanku, dan menyandarkannya ke dada Pak Sigit yang masih basah. Kakinya ia silangkan ke kakiku, dan kedua tangannya memeluh tubuhku dari belakang.
“Terima kasih, Dik Bondan!” katanya seraya menciumi leherku.
Kusandarkan kepalaku ke bahunya, hingga ia bisa leluasa menjilat dan mencium leherku. Pak Sigit terus saja memelukku, hingga satu jam kemudian kontolnya mulai berdiri lagi.

Mengetahui hal ini, aku lantas meminta Pak Sigit untuk mencicipi lobang anusku. Awalnya ia menolak, karena tak ingin melihatku tersiksa. Namun, setelah kuyakinkan bahwa nantinya aku akan merasa nikmat, ia menyetujuinya. Ia lumuri kontolnya dengan ludahku dan ludahnya, kemudian ia lumurkan sisanya ke anusku. Setelah itu, ia meletakkan kedua kakiku di atas pundaknya dan ia posisikan kontolnya di depan lubang anusku. Ia mulai memasukkan kepala kontolnya, lantas menghentikannya dikarenakan aku mengerang kesakitan. Aku meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja, tapi ia tetap saja mengurungkan niatnya.

Sesaat kemudian, ia segera keluar dari kamar dan masuk kembali dengan membawa sebungkus kondom dan gel pelicin. Ia lumurkan gel itu ke kontolnya, lalu ia memakai kondom itu. Di atas kondom itu, ia lumurkan lagi gel itu dengan maksud agar lebih licin. Selanjutnya, ia masukkan kontolnya ke anusku senti demi senti. Aku mencoba menahan rasa sakit yang ditimbulkan untuk meyakinkan Pak Sigit bahwa aku baik-baik saja.
“Lepas saja kondomnya, Pak!” pintaku ketika Pak Sigit berhasil membobol anusku beberapa kali.
“Tapi.” jawab Pak Sigit.
“Lepas saja, Pak! Lebih nikmat tanpa kondom, kan?” kataku dengan desah menggoda.

Akhirnya Pak Sigit bersedia melepas kondom dan melanjutkan permainan. Beberapa saat berlalu, Pak Sigit kuminta berhenti. Aku memposisikan diriku dengan doggy style, kemudian kusuruh Pak Sigit untuk memasukkan kontolnya kembali ke anusku. Ia mulai merasakan kenikmatan nge-fuck anusku. Ia tampak semakin lihai dalam menyodomi anusku. Aku mendesah dan mendesis pelan, sementara Pak Sigit dengan kecepatan konstannya merojok lubang kenikmatanku.

Merasa nikmat dengan posisi seperti ini, Pak Sigit semula menolak untuk berganti posisi lagi. Setelah melalui perdebatan kecil, akhirnya Pak Sigit mau merojok anusku dengan posisi berhadapan denganku. Aku tidur telentang dengan kaki ke atas dan badan Pak Sigit berada di antara pahaku. Wajah kami berhadapan sehingga Pak Sigit dengan mudah mendapat dua sensasi sekaligus, yakni menyodomi dan mencumbu wajahku.

Nafas Pak Sigit menderu dan terasa sangat hangat di wajahku ketika posisi itu telah kami jalani selama beberapa saat. Kulingkarkan kakiku di pinggang Pak Sigit, hingga ia bisa menyodokku lebih dalam. Tubuh kami terbasahi keringat. Tanganku melingkari punggungnya, hingga dada kami saling bergesekan. Sementara, kulihat pantat Pak Sigit tak henti-hentinya naik turun memompa maninya agar keluar dari pabriknya. Kali ini, tampaknya Pak Sigit semakin mempercepat gerakannya, juga gerakan pantatku yang mengimbangi goyangannya.

“Ugh.. egh.. nggh.. A.. ku.. aakh.. ah.. keluaarr!” kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Pak Sigit saat ia mengeluarkan pejuhnya di anusku.
Pak Sigit masih terus memompa anusku di saat-saat orgasmenya. Ia keluarkan kontolnya dari anusku, kemudian menggesek-gesekkannya dengan kontolku yang masih belum sempat memuntahkan lahar putihnya. Tampaknya Pak Sigit menyadari bahwa aku belum mengalami orgasme. Lantas ia menyuruhku berpindah tempat sejenak, dan ia sandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Segera setelah itu, ia tarik tubuhku hingga punggungku menempel pada dadanya. Ia peluk dan ciumi aku sebentar, lalu ia meludah pada kedua tangannya dan menyuruhku berbuat hal yang sama.

Setelah itu, Pak Sigit meraih batang kontolku dan ia genggam dengan tangan kirinya yang penuh ludah. Sementara itu, tangan kanannya memainkan kedua buah zakarku, hingga aku merasa sangat nikmat dibuatnya. Merasakan nikmat yang ditimbulkan oleh sentuhan tangan kasar Pak Sigit, membuatku agak lupa diri. Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Pak Sigit, dan kedua tanganku meremas-remas rambutnya. Pak Sigit sendiri selain memainkan kontolku, lagi-lagi ia menciumi leherku. Bahkan, kurasakan ia membuat sebuah cupang di leher bagian bawahku.

Tampaknya Pak Sigit sangat terlatih ngocok, terbukti tangannya lihai memainkan kontolku. Tak hanya dikocoknya, tapi juga diremas dan dipilinnya. Hal tersebut terus dilakukannya sampai aku mencapai batas maksimal. Dengan deras, aku menyemprotkan mani ke udara dan akhirnya jatuh membasahi dada dan perutku. Pak Sigit terus memilin dan meremas kontolku sampai kontolku melemas. Mungkin karena kelelahan, kami berdua tertidur dalam posisi yang masih sama dengan posisi terakhir, sampai akhirnya Pak Sigit terbangun dengan sendirinya.

Ia memintaku menginap malam itu di rumahnya. Sebuah mimpi yang menjadi nyata bagiku, menggantikan posisi istri Pak Sigit sampai keesokan harinya. Memang benar, Pak Sigit mempunyai tenaga yang kuat. Sampai sebelum tidur malam bertelanjang di bawah satu selimut dan dalam satu pelukan, kami ber-intim sebanyak dua kali. Satu kali ia nge-fuck di antara pahaku, karena anusku sudah terlalu lelah. Dan saat ayam jantan berkokok, ia membangunkan aku untuk ngemut kontolnya dan kembali nge-fuck pahaku.

Benar-benar sebuah malam yang fantastis.

E N D

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s