Diperawani guru privat : 2

Dari bagian 1

Setelah kontolku melemas, dia mengangkat tangannya yang belepotan spermaku dan menjilati-jilatinya.
“Mmm.. Pejuh kualitas nomor satu,” komentarnya, “Enak sekali. ”

Saya mulai bernapas lega, senang bahwa cobaanku telah berakhir. Namun saat kepalaku berada dalam dada Pak Hektor yang keras itu, entah kenapa hasratku naik lagi. Saya suka sekali dengan dadanya dan juga putingnya. Pelan-pelan kontolku menegang lagi.

“Oh, apa yang terjadi? Kenapa batang saya berdiri?” tanyaku kebingungan.

Saya mencoba untuk menurunkannya, namun kontolku punya pikirannya sendiri, dan dia menolak untuk tidur.

“Jangan dilawan. Biarkan sisi homoseksualitasmu merangkulmu. Biarkan hasratmu lepas dan bebas. Biarkan dirimu mencicipi tubuhku. Jangan takut. Saya akan membimbingmu,” katanya, lembut sekali.

Untuk sesaat saya tersihir omongannya yang lembut bak anggur yang memabukkan. “

Oh kasihku, saya ingin sekali mencicipi tubuhmu. Bapak ingin sekali memasukkan kontol Bapak ke dalam mulutmu dan juga ke dalam pantatmu. Bapak ingin bercinta denganmu. “

Sekujur tubuhku kaku ketakutan mendengar pengakuan jujur sang guru les yang bejat itu. Pak Hektor ingin menyodomiku! Dengan pandangan penuh ketakutan, kulihat Pak Hektor mengocok-ngocok kontolnya yang besar itu dan mengarahkannya ke pantatku! Apa yang dapat kulakukan untuk menghindarkan diriku darinya?!

Pak Hektor kembali berkata, “Jangan takut, Bapak takkan menyakitimu. Percayalah dengan Bapak. Disodomi itu enak sekali, loh. Tapi sebelumnya, Bapak ingin mencicipi kontolmu dulu.”

Sehabis berkata demikian, Pak Hektor langsung berlutut di depanku dan mulai memasukkan kontolku yang belepotan sperma ke dalam mulutnya. Tak ada rasa jijik sekalipun di wajahnya. Malah nampaknya dia sangat menyukai pejuh. Dengan rakus, sisa-sisa pejuh yang menempel di kepala kontolku dijilatinya sampai habis. Dan begitu lidahnya yang panas menyapu permukaan kulit kontolku, saya mengerang-erang keenakkan, hampir kehabisan napas. Memang saya belum pernah disepong. Tak pernah saya mengira bahwa disepong cowok akan begitu menggairahkan. Pak Hektor, guru les-ku, sedang menyedot kontolku!

Beberapa kali badanku menggeliat-geliat akibat sensitivitas berlebihan dari kontolku. Namun Pak Hektor tak pernah mau melepaskan kontolku, seakan kontolku merupakan harta karunnya.

“.. Hhohh.. Aaahh.. Pak.. Hhhohh.. Rasanya enak.. Aaahh.. Hisap terus, Pak.. Hhhoohh..”

Tanpa sadar, saya melenguh-lenguh keenakkan, menikmati servis ala homo yang diberikannya.

“.. Hhhohh.. Hhhososhh.. Aaahh.. Aaahh.. “

Tak tahu harus mencengkeram apa, kedua tanganku memegangi punggungnya. Namun saat kenikmatan mendera sekujur tubuhku, tak kuasa menahannya, saya mencakar punggung Pak Hektor. Pak Hektor tak keberatan, malah dia menjadi semakin terangsang. kontol kudanya menjadi semakin menegang. Tetesan precum dari lubang kontol itu telah mengotori lantai kamarku, becek di mana-mana.

Sedotan Pak hektor semakin lama terasa semakin enak. Dorongan untuk ngecret kembali timbul. Seiring dengan sedotannya, dorongan itu bertumbuh semakin besar.

“.. Hhhoohh.. Aaahh.. Oohh.. Hhhoohh.. “

Kupegangi kepalanya kuat-kuat dan bersiap-siap untuk ngecret.

“.. Aaarrgghh!!”

Tapi pas pada saat saya akan ngecret, Pak Hektor menekan saluran tepat di bagian bawah kontolku kuat-kuat. Saluran itu berdenyut-denyut dan kontolku juga berkedut-kedut membabi buta di dalam mulut Pak Hektor. Orgasme mengguncang tubuhku, namun aneh, tak ada sperma yang keluar. Memang ada yang bocor keluar, namun tak sebanyak pada ejakulasi biasa.

“Uuuhh!!”

Saya sedang mengalami orgasme kering! Itu artinya, saya berorgasme tapi tidak ejakulasi.
“Aaahh.. ”

Desahku dan sekujur tubuhku melemas. Tak kusangka orgasme kering juga dapat menguras energi.

“Bapak harap kamu suka. Bapak tadi menekan uretramu dan memblok jalan keluar pejuh kamu. Hasilnya, orgasme menjemputmu tanpa ejakulasi. Enak ‘kan?” tanya Pak Hektor, kembali berdiri.

Kedua tangannya langsung meraba-raba dadaku lagi. Terlalu letih, saya hanya bisa mengangguk-ngangguk lemah.

“Bapak harap, kamu pun mau melakukan oral seks pada kontol Bapak,” katanya.

Saya menjadi semakin melemas mendengarkannya. Membayangkan kontol Pak Hektor di dalam mulutku membuatku serasa ingin muntah. Namun dia tak memberiku pilihan. Dengan lembut, dia menekan kepalaku ke bawah, memaksaku berlutut di depannya. Kemudian kedua tanagannya menurunkan rahangku dan membuat mulutku terbuka lebar. Selanjutnya, kontolnya dimasukkan tanpa hambatan yang berarti. Dan anehnya, selama dia berbuat hal itu, saya tak kuasa melawannya, seakan-akan seluruh tubuhku patuh padanya.

Saat kontolnya akhirnya bersarang di dalam mulutku, saya mulai merasa mual. Ingin rasanya saya memuntahkan kontol itu keluar. Cairan precum nya masih meleleh keluar dari kontol itu juga membanjiri mulutku. Rasa asinnya begitu enak dan menyihirku. Mendadak rasa mualku pun hilang entah kenapa. Perasaan lain datang menggantikannya. Kini saya merindukan kontol itu dan ingin sekali untuk menyedotnya. Tanpa dapat kutahan, lidahku mulai bergerak-gerak dengan lincah, menyelimuti kepala kontol itu dengan permainan lidahku. Sesekali lubang kontol Pak Hektor kutusuk-tusuk dengan lidahku. Air liurku bercampur dengan precum yang keluar dari kontol itu. Pak Hektor benar-benar menikmati oral seks yang kuberikan. Tak henti-hentinya dia mengerang,

“.. Ooohh.. Bagus.. yaahh.. Hisap kontol Bapak.. Aaahh.. Sedot terus.. Uuuhh.. Hhhoosshh.. Eeennaakk.. Aaahahh.. “

Sesekali, Pak Hektor terbawa emosi dan menyodok-nyodokkan kontolnya ke dalam mulutku. Beberapa kali saya tersedak dan mukaku memucat. Rasanya sulit untuk bernapas. Untunglah Pak Hektor memberiku beberapa detik istirahat sebelum kembali menyodok mulutku. Dengan cepat, saya dapat menyesuaikan diri dan mencoba untuk mengakomodasi kontolnya dengan lebih ahli. Mulutku menggelembung tiap kali kepala kontol itu menyodok masuk. Saya sampai kewalahan menyedotnya. Entah kenapa, saya jadi ketagihan precum Pak Hektor dan mencoba untuk memerahnya dari kontol itu. Mmm.. SLURP! SLURP! SLURP! Sungguh enak sekali rasa precum!

“.. Hhhohh.. Sedot terus.. Aaahh.. Bapak hampir.. sampai.. Hhhoohh.. Terima pejuh Bapak.. Hhohh.. ” dengan itu, Pak Hektor menusukkan kontolnya dalam-dalam dan
“Crott.. croott.. croott..”

Pejuh panas dan segar langsung muncrat ke dalam mulutku yang lapar. Tanpa berpikir, saya langsung menelan semuanya. Mmm.. Rasanya jauh lebih enak dibanding precum. Pejuh Pak Hektor begitu kental sampai saya bisa menggigitnya. Aaahh.. Sungguh enak sekali rasa pejuh seorang pria. Sementara itu Pak Hektor terus-menerus mengerang-ngerang sambil menghentak-hentakkan pinggulnya.! Melenguh panjang, Pak Hektor pun melemas dan tuntaslah semuanya.

Dengan penuh cinta, Pak Hektor mengangkat tubuhku dan membantuku berdiri. Begitu wajah kami saling bertemu, dia kemudian memberikan sebuah ciuman besar sebagai tanda terima kasih. Bibirnya terasa begitu hangat, lembut, dan basah. Saya sangat menikmatinya sampai-sampai saya menciumnya balik. Maka kami berdua pun sibuk saling berciuman bibir-ke-bibir dan lidah-ke-lidah. Entah kenapa kini saya mulai menyukainya, mulai dari wajahnya, kepribadiannya, sampai pada tubuhnya yang kekar berotot. Saya mencintai guru les-ku! Apakah ini pengaruh hipnosis ataukah memang berasal dari dalam diriku? Tapi yang kutahu pasti adalah bahwa saya ingin melakukan apa saja hanya untuknya.

Dan seolah dia dapat membaca pikiranku, dia pun berkata.

“Kau bersedia melakukan apa saja untukku? Bagaimana jika Bapak meminta keperjakaanmu. Sudikah kamu memberikannya?”

Dengan sensual, tangan kanannya menjelajah turun ke pantatku. Lubang anusku yang ketat digelitik-gelitik dan kemudian ditusuk-tusuk. Aaahh.. Pak Hektor sedang menyodomi pantatku dengan jari-jari tangannya.

“.. Hhhohh.. Aaahh.. Saya bersedia Pak.. Hhhohh.. Apapun asal Bapak.. Uuugghh.. Senang.. Ngentotin pantatku.. Aaahh.. Pakai badan saya.. Ooohh.. “

Saya memasrahkan tubuhku ke tangannya. Yang kuinginkan hanyalah untuk menyenangkan hati dan kontolnya. Saya ingin melayaninya dengan tubuhku karena itu yang dia mau.

“Bagus. Bapak takkan ragu untuk mengentotinmu.”

Matanya memandangku lekat-lekat, membara-bara dengan api nafsu. Dengan penuh nafsu, Pak Hektor membalikkan tubuhku. Untuk memudahkan mengentot, tubuhku sedikit dicondongkan ke depan. Dengan demikian, lubang pantatku pun terekspos.

“Mmm.. Lubang anus yang sangat indah. Bapak suka, dan Bapak yakin bahwa Bapak akan menikmatinya.”

Setelah menepuk-nepuk pantatku sebentar, Pak Hektor mulai memposisikan kontolnya di depan lubangku. Pejuh yang masih menempel pada kepala kontolnya digosok-gosokkan pada lubangku. Saya jadi terlena dan mulai menikmati pijat anus yang dilakukan oleh kontol Pak Hektor namun tiba-tiba.. PLOP!

“AARRGGHH!!” kontol Pak Hektor pun amblas, jauh masuk ke dalam saluran pembuanganku.

Anusku yang masih perjaka dipaksa untuk melebar selebar-lebanya. Saya merasa penuh sekali. kontol itu berdenyut-denyut, seolah hidup, dan menyebarkan kehangatan. Meskipun saya terus meringis kesakitan, namun saya merasa tentram sekali, seolah saya berada apda tempat di mana saya seharusnya berada. Saya merasa telah pulang kembali ke rumahku, kembali pada takdirku sebagai pemuas nafsu lelaki. Pak Hektor mengusap-ngusap punggungku, menenangkanku.

Kemudian, saya mulai merasakan kontol kuda itu mulai bergerak mundur. Untuk sesaat, saya merasa kekosongan mengisi badanku.

“.. Aaahh.. ” saya mendesah kecewa.

Namun kontol itu akhirnya kembali memasuki tubuhku. Kehangatannya mulai mengisi tubuhku kembali. Aahh.. Nikmat sekali.

“.. AARRGGHH.. ” Erangku, sakit sekaligus nikmat.

Meskipun baru pertama kali ini saya dingentotin, saya dapat menyesuaikan diri. Lubang anusku tidak menegang sehingga mempermudah penetrasi kontol Pak Hektor yang luar biasa besar itu. Saya sendiri heran kenapa saya dapat mengontrol otot anusku sebegitu baik, padahal saya tak berpengalaman dingentotin. Tapi yang penting, saya menikmati sodokan kontolnya.

Eranganku membahana di dalam ruanganku, dan memantul balik dalam bentuk gema. Tubuhku terguncang-guncang seiring dengan irama sodokan kontolnya. Namun Pak Hektor terus memegangi tubuhku, menahannya agar jangan sampai jatuh. Seseklai tanganyanya yang kaut meremas-remas dadaku. Tak lupa, putingku dipelintir-pelintirnya tanpa ampun. Tangannya yang satu lagi bergerak turun dan melingkar di sekitar batang kontolku dan kemudian mengocoknya. Nikmat sekali. Pantatku disodok-sodok kontol sementara kontolku dikocok-kocok.

“.. Aaahh.. ” lenguhku, tenggelam dalam kenikmatan.

Bagaikan di surga, kami berdua, telanjang bulat, dililit nafsu birahi. Sekujur tubuh kami menegang, dialiri gairah. kontol kami ngaceng sekali, terus-menerus mengeluarkan precum. Napas kami memburu-buru, cepat sekali. Wajah kami meringis-ringis, di batas antara rasa sakit dan kenikmatan. Kami saling mengerang, dan mmenggeliat. Tubuh kami menyatu, disatukan dengan kontol Pak Hektor yang tertanam di dalam tubuhku.

“Pak.. Saya mau kelaur.. Aaahh.. Pak.. Tak tahan lagi..” Erangku, tangaku kuputar ke belakang untuk meremas-remas pinggulnya yang terus menerus menghentak-hentak. Tanda-tanda orgasme semakin medekat. Saya yakin bahwa saya akan segera ngecret.

“.. Oohh.. Aaahh.. Uugghh.. ”
“.. Ooohh.. Pantatmu enak banget.. Ooohh.. Bapak juga.. Hhhoohh.. Mau ngecret.. Aaahh.. Ooohh.. Aaahh.. Aaarrgghh..”

Pak Hektor malah semakin mempercepat gerakan ngentotnya. Saya sampai kewalahan menahan laju kontolnya, namun rasanya malah semakin nikmat. Semakin kuat sodokan kontolnya, semakin tubuhku terstimulasi. Apalagi kontolnya itu selalu membentur sesuatu di dalam tubuhku yang mengirim gelombang nikmat yang tak terkatakan.

“.. Aaahh.. Uuugghh.. Ohh.. Aahh.. ” Tanpa dapat dicegah, kontol Pak Hektor menegang dan membengkak kemudian muncratlah pejuhnya. Pejuhnya langsung masuk membanjiri bagian dalam tubuhku.

Orgasme Pak Hektor memicu orgasmeku, apalagi tangannya sedang mencoli kontolku. Kontan saja, saya pun tiba pada klimaks-ku, tanpa dapat kuhalangi. Kontolku bergetar-getar lebih keras daripada biasanya. Lubang kontolku menganga lebar-lebar dan membiarkan aliran pejuh mengalir keluar bagaikan lava putih yang muncrat dari kawah gunung berapi. Sepasang tangan Pak Hektor yang kuat dan berotot terus setia menahan tubuhku dan menungguku sampai saya selesai berorgasme. Dan “.. Aaahh.. ” Napasku masih terengah-engah, letih sekali. Di bawah kakiku, genangan pejuhku yang keputihan nampak menggenang.

Pak Hektor membalikkan tubuhku kembali, kami saling berhadapan. Tiba-tiba saya merasa kosong karena kontol Pak Hektor sudah meninggalkanku. Namun pejuhnya masih terasa menetes-netes keluar dari anusku. Dapat kulihat cinta di matanya. Pak Hektor kemudian memelukku dan kami pun kembali berciuman. Cinta mulai bersemi dalam hatiku. Dan saya ingin tetap bersamanya selamanya. Tindakannya yang bejat dengan cara mencabuliku memang salah. Tapi jika dia tidak mencabuliku, saya takkan dapat menemukan homoseksualitasku, dan juga cintaku.

Setahun telah berlalu, kini saya sudah masuk kuliah. Hubunganku dengan Pak Hektor tetap berjalan terus meksipun dia sudah tidak mengajariku lagi. Orangtuaku mengira kami cuma berteman akrab saja. Padahal, kami berdua telah menjadi sepasang kekasih homoseksual. Saya hanya berharap bahwa cinta kami dapat bertahan lama, selamanya..

*****

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s