Pesta pedang

Sungguh beruntung menempati kamar di lantai tiga ini. Semula aku sering mengeluh karena lelah naik tangganya, itu sih enam bulan lalu semenjak kepindahan kami. Belakangan aku justru lebih senang di lantai <input name=”IL_MARKER” type=”hidden” />tiga. Banyak pemandangan baik dalam arti sesungguhnya maupun arti khusus. Dari sini aku bisa memandang sejauh berkilo-kilo meter, apalagi dari atas atap.

Paling menyenangkan adalah karena ada beberapa rumah yang orangnya sering berpose seadanya. Bang Ali misalnya, duda beranak satu yang baru cerai sering hanya pakai celana dalam berjalan-jalan di pekarangan. Terkadang aku sering berpikir dia sinting, pernah suatu kali Bang Ali telanjang lalu onani sambil lari-lari seperti sedang main kuda-kudaan. Ada juga kamar mandi keluarga Pak Harjo yang tanpa atap. Aku bisa mengamati kebugilan seluruh keluarga dengan bebas, tapi nggak suka kalau yang pas mandi Bu Harjo atau Bi Minem yang sudah tua (Huueekh!). Aku suka kalau yang pas mandi Rinto (sekitar 35 tapi belum nikah) atau si Sugi (30-an juga belum nikah), gayanya ada saja.

Tapi bukan itu yang kali ini yang ingin aku ceritakan. Tapi mengenai bangunan di rumah sebelah. Sebenarnya bukan bangunan rumah tapi Rukan dua tingkat. Semenjak perencanaan pembangunannya aku sudah mulai merencanakan membeli teropong untuk memperlancar pengamatan. Aku namakan proyek ini adalah proyek mata elang. Aku yakin sekali kalau di sana akan dipekerjakan banyak buruh bangunan yang badannya berotot. Sekalian aku juga mengamati Rinto dan Sugi –yang aku hapal di luar kepala jam mandinya- atau kalau beruntung Bang Ali sedang mencoba cara baru.

Kemarin sudah ada beberapa orang datang untuk mendirikan bedeng sekalian menutup bagian depan dengan seng. Namun karena bedeng belum jadi juga jadi belum ada yang menginap. Hari ini akan lain. Kebetulan juga pas sore tadi ada kuliah sore jadi tidak sempat mengamati aktivitas mandi hari pertama, kalau ada.

Hari ini jam tiga aku sudah ada di kamar atas. Kebetulan di rumah memang tinggal aku sendiri, abangku sudah berkeluarga dan orang tuaku jam 8 malam baru di rumah. Aku beberapa kali melempar sudut teropongku ke tempat-tempat baru, sambil mengawasi target utama dengan mata telanjang. Kadang aku mengamati kamar seorang mahasiswa yang jendelanya terbuka. Posisinya tepat tapi kamarnya terlalu gelap, sehingga obyek tidak bisa tertangkap jelas.

Ini dia! Rupanya buruh bangunan sudah mulai beres-beres. Nampaknya sebentar lagi pulang kerja. Tiga orang buruh berumur di atas 40 tahun sedang antri untuk menggunakan ledeng. Sementara dua buruh yang seumuran aku sedang menyalakan api dengan menggunakan sisa-sisa kaso (balok kecil dari kayu), mungkin mereka akan membuat kopi. Seluruhnya tujuh orang, entah yang satu ke mana, mungkin sedang keluar atau mungkin juga ada di dalam bedeng.

Satu yang aku suka adalah yang rambutnya agak panjang dan dikuncir ke belakang. Badannya kekar seperti The Rock di WWF, lebih kecil sedikit. Bisep dan trisepnya bagus, dadanya juga membentuk. Perutnya tebal bukan ke samping tapi di bagian petakannya. Pahanya juga kencang seperti pemain bola. Ideal sekali badannya juga warna kulitnya, hanya saja sayang wajahnya.. tidak jelek sih, tapi tidak menarik. Inilah target pertama.

Pintu seng sudah ditutup, orang-orag tua sudah pulang. The Rock keluar dari bedeng hanya mengenakan handuk yang sudah tidak jelas warnanya. Entah hijau atau kuning atau abu-abu. Pantatnya tebal terbalut handuk kencang, tak henti aku melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki berkali kali. Tak terasa kontolku berdiri membayangkan dia bisa kunikmati. Sementara dua yang lain sibuk membuat ini itu dan keluar masuk bedeng berkali kali. Tempat mandi ada di belakang Bedeng.

Rupanya The Rock sudah mau mandi. Ini saat yang mendebarkan. Tempat mandi itu hanya pojokan tempat air mengalir, tanpa tebeng apapun, jadi aku bebas mengamati. Setelah meletakkan perlengkapan mandi pada tempat yang strategis dibukannya handuk itu dan disampirkan di palang terdekat. Wah aku tidak sabar untuk melihat bagian depannya. Tanganku mulai mengelus-elus kontolku yang tambah tegang saja. Ludahku bercelegukan belihat badan besar penuh daging itu.

Dilepasnya kuncirnya dan sekarang mulai dikeramasnya rambutnya itu. Sejauh ini aku masih belum bisa lihat seperti apa bentuk kontolnya. Gemas aku menunggu. Air segar disiramkan ke tubuh, sungguh beruntung kau air bisa mengelus tubuh yang ideal. Bisa mengelus seluruh bagian senti per senti. Aku kadang membayangkan kalau aku yang jadi airnya. Semakin keras saja kukocok kontolku naik turun, aku merasa hampir sampai puncak dan kulepaskan supaya aku masih bisa menikmatinya.

Lalu kedua telapak tangannya menggosokkan sabun di seluruh tubuhnya. Setelah semua badan kena sabun, tidak luput belahan ketat pantat bulat kencang dan juga bagian depannya. Tapi kemudian dia meletakkan sabun dan mulai menggosok tubuhnya pelan-pelan seperti pangeran sedang menggunakan lulur mandi.Tangannya yang berotot dielus bergantian, punggungnya, dadanya dan juga perutnya dan lehernya.

Nah ini dia dia berbalik badan menghadapku. Tepat. Sempurna sekali posisinya. Aku bisa melihat penuh, sayang bagian kontolnya tertutup banyak sekali sabun jadi kurang jelas detailnya. Sayang sekali. Tangannya masih terus menerus mengelus, sepertinya dia membayangkan seseorang mengelusnya seperti itu. Entah dia membayangkan istrinya atau pacarnya, yang jelas benda kehitaman di bawah itu mulai bergerak dari tempatnya, ya.. dia ereksi.

Saat tangan kanannya sampai di bagian kontolnya. Aku juga pegang kontolku sendiri. Dia meremasnya sekali, tapi lalu berpindah ke paha dan selakangan. Lalu bolanya, sementara tangan kirinya memelintir-pelintir teteknya sendiri. Tangan kanan menggosok atau meremas dua lonceng tergantung. Kontolnya semakin berdiri saja, dan tangan kanan itu sekejap saja sudah mulai maju mundur menggenggam kontol itu. Hai dia ngocok!

Tersadar tangan kananku juga mengikuti gerakannya. Ahh.. ahh.. Sungguh nikmat. Tentu saja dia tidak tahu kalau ada orang yang juga menikmati permainan itu, matanya tertutup. Makin lama dia semakin cepat dan makin cepat. Tanganku juga, pokoknya seirama dan nafasku memburu. Sebentar lagi aku keluar aduh semoga bersamaan. Tapi saat itu juga The Rock memperlambat gerakannya. Dinikmatinya kontolnya pelan-pelan. Kocokanku ikut pelan, tapi ahh sudah tidak kuat dan croott. Wah kaosku basah semua terkena mani di mana-mana. Kukocok lagi untuk membersihkan supaya keluar semua.

Byurr.. byurr.. suara air disiramkan. Wah rupanya The Rock juga sudah keluar dan sudah terpuaskan. Sementara itu di ujung kamar mandi sudah ada satu orang muda seumuranku sudah menunggu hanya berbalut handuk. Aku juga tidak menyadari kehadiran orang itu, tapi sudah dari tadi sepertinya. Apa si The Rock ketahuan onani lalu berhenti lebih cepat? The Rock tanpa mengeringkan badan dahulu menutup tubuh yang basah itu dengan handuk dan berlalu dari tempat itu.

*****

Kini aku sudah lebih terfokus pada proyek mata elang. Bang Ali, Sugi atau Rinto tidak lagi menantang (kalau dapat kuanggap bonus). Sudah lima atau enam kali aku main ke bedeng untuk pendekatan. Mau tahu siapa sebenarnya The Rock itu? Namanya Alim, umurnya 32 belum beristri (tapi pasti pernah kawin!) tinggi di atas 175 cm berat 70 kg. Orangnya memang “alim”, tidak berangasan tapi berkesan bangsawan. Dua orang muda seumurku yang aku pernah cerita adalah Nono dan Tri, keduanya juga masih bujang. Lalu ada Pak Su, aku kurang suka karena orangnya serius dan lumayan berumur (jadi agak cerewet!). Itu semua yang menginap di bedeng sebelah rumah.

Malam minggu ini aku sudah janji main kartu dengan mereka lalu diteruskan acara nonton VCD. Untung di tempat mereka sudah ada TV meski hanya 14 inchi. Satu yang menguntungkan adalah Pak Su pulang kampung sampai hari Senin nanti. Sempurna, aku hanya berharap segala yang kuimpikan bisa terlaksana malam ini.

Kami main kartu berempat sampai jam sembilan lewat. Malam minggu adalah hari bermain bebas bagiku, bahkan kalau aku tidak pulang pun orangtuaku tidak khawatir (aku ikut taekwondo, bulan depan ujian DAN). Meski aku anak bungsu namun bukan anak manja. Orang tua juga memberi kebebasan penuh asal sepengetahuan mereka. Aku ijin untuk mengerjakan tugas kuliah. Tetapi sebenarnya aku berniat menginap, hanya mereka tidak tahu kalau aku menginap tepat di sebelah rumah.

“Udah lah.. yuk kita nonton aja. Gua kalah mulu nih!” kataku beralasan.
Suntuk juga dari tadi diketawain melulu. Aku bawa tiga atau empat filem tentu saja semua filem porno dari yang bisex sampai gay biar lebih menjurus. Filem pertama diputar adalah filem bisex. Aku bersandar ke dinding, Tri dan No tepat di depan TV, sedangkan Alim di belakang sendiri. Posisiku tepat untuk mengamati semua. Lama yang terdengar hanya lenguhan-lenguhan sedangkan semua mata memandang dan sesekali mencuri gerakan untuk meremas atau membetulkan kontol kalau kebetulan tidak ada yang mengamati. Tapi jangan salah, konsentrasiku bukan pada filem tapi justru pada penontonnya, tentu saja semua tertangkap melalui bulu ekor mata.

Paling ramai No dan Tri yang saling mengolok karena mereka tegang. Mereka juga yang paling sering mengocok, tapi kalau kelihatan mereka berhenti (malu-malu kucing). Bang Alim berlagak tahan tapi melihat No dan Tri terangsang dia ikut ngocok juga. Akhirnya aku pindah ke sebelah Alim di belakang bersandar di lengannya. Lagi waktu itu dia pakai kaus ketat lengan pendek hmm. Otot trisep-bisepnya berkembang sempurna sekali, pentilnya juga kelihatan di balik kaosnya, perutnya yang kotak juga kadang mengintip.

Adegan film menceritakan atlet-atlet futbol amerika yang hanya pakai celdam di ruang ganti didekati seorang pemandu sorak. Di depan mereka semua si pemandu sorak bergaya striptis, lalu mulailah bermunculan kontol-kontol dari 4 orang. Ada yang mengocok sendiri ada juga yang lanngsung mendekat ke si pirang dan happ sekali lahap kontol yang masih lemas berubah jadi setengah tegang dan hap jadi tegang.

Kulihat Alim memasukkan tangan kanannya tepat dibawah mataku dan mulai mengocoknya. Dengan beraninya tangan kirinya mengelus-elus pahaku lalu bagian depan kontolku yang sudah tegang dari tadi. Aku biarkan saja, seakan aku terlalu perhatian pada tontonan sehingga tidak tahu yang terjadi. Aku berharap dia tidak menghentikannya karena sungkan.

Sudah semua kontol keempat pria bule itu keluar masuk bergantian ke mulut si pirang yang kini sudah telanjang habis. Sementara itu ada satu orang yang mulai mengelurkan masukkan jarinya di lubang memek si pirang. Yang lain ada yang meremas tetek ada yang asik dihisap sambil menjambak rambut.

Kini No dan Tri sudah mengocok kontol masing-masing tanpa komentar lagi. Gilanya lagi si Tri malah sudah tidak malu-malu lagi mengeluarkan kontolnya dan mengocok seenaknya. Suasana ruangan semakin panas. Alim semakin berani, selain kontolnya yang sudah mengintip-ngintip dari balik celana saat dikocok, dia juga sudah memasukkan tangannya ke dalam celanaku. Aku sudah tidak bisa pura-pura cuek lagi. Saat kutatap wajahnya, ah ternyata tidak jelek-jelek amat, dia tersenyum akupun tersenyum tanda setuju.

Tiga kontol bule itu sudah masuk ke tiga lubang milik si pirang: mulut, memek dan pantat. Tinggal yang satu orang terkadang dikocok terkadang tidak, rupanya perhatian si pirang terbagi di antara keharusan mengocok dan kenikmatan di tiga lubang yang dirasakannya.

No dan Tri sudah membuka baju dan celana masing-masing. Ha! Mereka tidak tahan dan telanjang bulat sambil mengocok di depan kami. No dan Tri sebentar menengok pada kami lalu mereka saling bersandar dan bergantian mengocok. Tri mengocok kontol No dan No mengocok kontol Tri. Sementara itu tanganku sudah menggeggam kontol Alim, panjangnya sejengkal lebih, ah pasti lebih dari 22 cm dan besar juga. Aku mengocok punya Alim.

“Coba ada cewek satu disini pasti kita seperti di film itu ya..” kata si No di tengah-tengah keasyikan itu.
Aku dekati mereka dan kurangkul mereka berdua dari belakang.
“Asal kalian tidak reseh aja. Minggu depan impian kalian pasti jadi kenyataan.” Aku berjanji.
“Nih No biar cepet keluar!” si Tri bercanda mempercepat kocokannya pada kontol si No.

No meringis agak kesakitan. Kubuka bajuku dan kurangkul mereka berdua, kucium mereka satu persatu. Aku belum berani cium mulut, takut mereka kaget malahan lari. Kuraih kedua kontol sebayaku itu. Seukuran denganku lah! Lalu kukocok degan irama yang sama. Mata mereka berdua terpejam-pejam keenakan, badan mulai mereka sandarkan padaku. Setengah berlutut aku menahan berat tubuh-tubuh telanjang itu.

Rupanya Alim sudah tidak sabar lagi, dari belakang dipelorotkannya celanaku lalu diemutnya kontolku seperti si cewek mengulum kontol bule itu. Sementara itu di filem mereka sudah berganti ganti posisi. Satu orang yang tidak kebagian sekarang mencoba memasukkan kontolnya ke pantat orang yang sedang diemut.

Hebat juga Alim menyedot kontolku. Pelann namun pasti keluar dan masuknya, begitu mantap, aku serasa naik ke langit. Mungkin karena kurang konsentrasi terpengaruh sedotan Alim maka kocokanku sering terhenti. No dan Tri ingin tahu apa yang menyebabkan aku keenakan seperti itu. Melihat Alim sedang menyedot kontolku maka Si Tri bangun dan memelorotkan celana Alim dan mulai menyedotnya. No tidak ketinggalan menyedot kontol Tri. Aku kasihan sama No lalu kontolnya kusedot. Jadilah kini lingkaran saling menyedot kontol. Suara kecipak-kecipak terdengar di tengah lenguhan yang di VCD.

Kami sudah tidak memperhatikan TV lagi karena asik menikmati sedotan-sedotan. Rupanya lama kelamaan bosan juga Alim pertama kali bangun dan dalam sekejap kontol Alim sudah lenyap di dalam pantat Tri. Ah! Rupanya mereka juga sudah biasa permainan seperti ini, kalau tidak mana mungkin kontol segede punya Alim begitu cepat masuk ke lobang pantat Tri tanpa Tri menjerit-jerit. Alim sudah mulai menggenjot tanpa ampun lagi.

Mulanya No dan aku hanya melihat mereka sambil mengelus kontol masing-masing lalu kami sudah saling mengocok. Lalu kupeluk dan kucium mulut No tanpa mau tahu apa dia akan kaget atau tidak, ternyata dia membalas. Shit! Mereka sudah ahli juga ternyata. No kutidurkan dan aku coba memasukkan kontolku ke dubur No, tapi ternyata susah, rupanya yang ini masih perawan. No memberi petunjuk agar aku ngentot Alim saja. Kulakukan dan lebih mudah. Pantat yang setengah menungging itu dengan mudah kumasuki kontolku. Tanpa aku bergerak aku sudah keluar masuk sendiri karena Alim memang masih menggenjot Tri.

No bangun mengecilkan volume TV dan kemudian memberikan kontolnya pada Alim untuk disedot. Jadi sekarang kontol Tri dikocok oleh Alim, kontolku masuk ke dubur Alim sedangkan mulut Alim terisi kontol No dan kontol Alim sendiri masuk di pantat Tri. Tanganku tak hentinya mengelus dada, punggung, pantat, pundak, lalu lengan, lalu dada lagi, perut dan ah.. pokoknya semua tidak ada bagian tubuh Alim tidak tersentuh. Kalau ini impian jangan bangunkan aku. Biar kasurku banjir mani tetap jangan bangunkan aku.

Kontolku terlepas saat Alim mengeluarkan kontol dari dubur si Tri dan dikocok sendiri. Rupanya hampir keluar.
“Biar aku yang keluarin, Lim.”
Tanganku menepis tangan alim dan aku mulai mengocok seperti irama Alim tadi. Kontol No juga terlepas dan sudah dikocok sendiri juga. Tapi ternyata Tri yang pertama kali keluar. Maninya muncrat tinggi sekali. Mengenai muka Alim dan No, sebagian ada yang jatuh di dadaku. Kencang sekali semburannya.

Kedua No juga keluar. Semburannya tepat mengenai dada Alim yang dihadapan dan juga Tri yang masih di bawahnya. Alimpun menyusul. Ah.. leganya mereka. Tapi aku belum dan tidak ada yang mengocoknya.

“Hei jangan pergi hei..!” semua pergi bebersih badan masing-masing sementara aku masih mengocok.
“Heii tanggung jawab doonngg!” teriakku sambil terus mengocok..

E N D

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s